Skip to main content

Jangan Bicara Tentang Tuhan Kalau Hidupmu Belum Beres!

Sumber gambar : http://www.churchplanting.com
Jangan bicara tentang Tuhan kalau hidupmu sendiri belum beres!
Jangan sok menginjili kalau tingkah lakumu sendiri masih belum benar!
Memangnya hidup kamu sudah benar, ga usah menghakimi orang lain!
Kamu seperti orang Farisi, suka bicara firman Tuhan, tapi hidup kamu belum benar!
Kata-kata kamu terlalu keras, memangnya hidup kamu sudah benar!
Kamu ngomong terlalu keras, kata-kata kamu tidak ada kasih, itu tidak akan jadi berkat!
Kalau kamu bicara hal-hal yang keras seperti itu, itu akan menghambat orang lain untuk bertobat!
Sebagai murid Yesus, kita harus mengasihi, tidak berkata keras dan kasar seperti itu!


Anda pernah menerima perkataan semacam itu? Atau justru anda yang mengatakan perkataan-perkataan seperti di atas?


Sebagai orang kristen, kita diajarkan tentang kasih, bagaimana kita harus mengasihi, bagaimana kita harus berbicara dengan lemah lembut terhadap saudara seiman, karena itulah yang diajarkan Yesus. Jika seorang berkata yang terkesan kasar dan perkataannya keras, maka ia seringkali dianggap tidak ada kasih, belum mengenal Yesus, suka menghakimi, tidak ada Roh Kudus, bahkan langsung di cap SESAT. Jika seseorang yang anda kenal berkata-kata tentang firman Tuhan kepada anda, apa yang anda katakan? “Bereskan dulu hidupmu, baru menginjili” Kebanyakan dari kita seperti itu bukan?

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Matius 23:1-3)

Ada orang yang tidak mau menerima teguran keras, dan langsung mengatakan bahwa orang yang menegurnya seperti orang farisi. Ada orang yang tidak mau mendengar perkataan temannya sendiri tentang kebenaran hanya karena melihat hidupnya yang belum beres. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kebenaran.


Setiap orang kristen mengaku mereka tidak hanya mau menerima hal-hal yang manis, tetapi juga teguran. Sayangnya teguran yang bisa diterima olehnya adalah teguran yang manis, bukan teguran yang keras. Yesus itu lemah lembut, penuh kasih, jadi setiap kita harus menjadi seperti Yesus yang lemah lembut dan penuh kasih. Begitu juga ketika menegur seseorang, tegurlah dengan lemah lembut dan penuh kasih, bukankah itu akan membangun imannya dan tidak menimbulkan sakit hati pada dirinya? Tapi saya berpikir berbeda, itu sebabnya saya sering di cap seperti orang Farisi. Yesus memang lemah lembut dan penuh kasih, tapi ketika menyatakan kebenaran, Yesus berani menyatakannya dengan tegas dan keras, bahkan ketika mengajar saja, Ia berani mengajar kebenaran dengan keras.

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarnyakannya?” Yesus yang didalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat dimana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya. Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia. (Yohanes 6:60-66)

Banyak orang kristen yang ketika mendengarkan seseorang berkata dengan pengajaran yang keras, langsung memberi teguran “Perkataan kamu terlalu keras, kalau ini di dengar oleh orang-orang yang baru percaya maka kamu akan menggoncangkan iman mereka, kalau ini di dengar oleh orang-orang yang belum percaya, maka kamu membuat mereka tidak ingin mengenal Yesus!” Ada juga yang mencemooh yang mengatakan firman Tuhan karena merasa orang tersebut belum cukup layak.


Betapa banyaknya orang-orang kristen yang mengaku diri “ingin seperti Yesus” tapi selalu berkata yang manis-manis dan enak di dengar, padahal Yesus sendiri ketika mengajar kebenaran, Ia tidak selalu dengan lemah lembut, ada ketegasan, ada ajaran yang keras yang diberikan oleh Yesus. Bagaimana dengan pendengarnya? Yesus tidak peduli murid-murid-Nya yang menjauh karena Dia tahu, siapa yang sungguh-sungguh ingin diajar oleh-Nya, dan yang sungguh-sungguh itu tidak akan pergi meninggalkanNya. Yesus juga tahu siapa orang-orang yang hanya ingin mendengar hal-hal yang manis saja, yang enak di telinga mereka, Yesus membiarkan ketika orang-orang bebal ini meninggalkan Dia, mungkin anda termasuk diantaranya.


Anda suka dengan perkataan yang manis, yang enak di dengar, anda percaya Yesus mengajarkan tentang Kasih, mengapa anda tidak percaya Yesus mengajar dengan perkataan yang keras, yang bisa menusuk ke dalam jantung anda. Anda percaya firman Tuhan seperti pedang bermata dua, tapi anda mengira pedang itu tidak tajam? Pedang itu hanya pedang tumpul yang tidak bisa menembus hati anda. Sayangnya anda suka berpura-pura itu seperti pedang yang tajam. Kalau anda tidak bisa menerima pengajaran yang keras, kapan iman anda akan dewasa?

Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. Sebab sekalipun kamu ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari pernyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab, barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat. (Ibrani 5 : 11 – 14)

Sudah berapa lama anda menjadi Kristen? Satu tahun, dua tahun, lima tahun, atau sejak lahir anda sudah menjadi Kristen. Anda seharusnya sudah bisa menerima makanan keras, tapi mengapa masih ingin makan bubur? Anda seharusnya sudah bisa mengajar orang lain tentang kebenaran, tapi anda hanya ingin mendengar yang enak-enak saja. Dan yang lebih menjijikkan adalah anda suka mencela orang-orang yang ingin mengajarkan kebenaran, orang-orang yang menegur dengan keras demi kebenaran. Anda mengganggap orang-orang yang sudah “dewasa” ini hanya mengganggu telinga dan iman anda, anda belum bisa mengaktifkan seluruh pancaindera anda untuk membedakan yang baik daripada yang jahat. Mau sampai kapan anda seperti ini terus?


Anda suka mengatakan kepada orang-orang yang mengajarkan kebenaran apalagi dengan perkataan keras sebagai orang Farisi? Mengapa hati anda begitu picik? Yesus saja mengatakan bahwa ajaran orang Farisi tetap harus didengarkan dan dilakukan, hanya jangan meniru tingkah laku mereka. Jadi, orang-orang yang anda anggap sebagai orang Farisi itu tidak perlu didengarkan karena tingkah lakunya tidak benar? Silakan saja anda berpikir demikian, karena anda akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kebenaran.


Anda mengira anda sangat memahami hidup orang lain, itu sebabnya ketika orang tersebut mengatakan perkataan yang keras dari firman Tuhan, anda langsung mengejeknya “Hidupnya saja belum beres, buat apa dia mengatakan firman Tuhan, tidak usah sok mau menginjili, perbaiki dulu hidupmu, keluargamu, kalau sudah beres baru silakan menginjili.” Begitu menurut anda? Yesus saja mau kita tetap mendengarkan pengajaran orang Farisi, meskipun kita tahu seperti apa orang Farisi itu, apalagi orang-orang yang anda hanya MERASA tahu tentang kehidupannya.


Anda suka mendengarkan pendeta anda di Gereja, anda mengagumi pendeta anda dan ajarannya? Tahukah anda hidup pendeta anda tersebut yang tidak beres? Bukankah anda akan mengatakan “Hidupnya memang tidak sempurna, tapi dia dipakai Tuhan, dia punya kuasa, firman Tuhan yang disampaikannya benar, firman yang disampaikannya menguatkan saya, membuat iman saya bertumbuh, ia mengajar dengan lemah lembut seperti Yesus, ia memang tidak sempurna dan pasti memiliki kesalahan, tapi saya belum pernah melihat dan menemukan kesalahannya, itu sebabnya saya suka mendengarkan dia dan percaya kepadanya.”


Anda sadar, ketika anda mengatakan perkataan seperti di atas, anda bukanlah seorang pencari kebenaran, apalagi mencari Kerajaan Tuhan dan KebenaranNya. Anda hanya seorang yang ingin hatinya dibelai-belai dengan lembut, itu sebabnya anda tidak menyadari bahwa perkataan diatas adalah perkataan anda untuk memperbudak Tuhan.


Sepanjang pengalaman saya, orang-orang yang suka berkata seperti kalimat-kalimat perkataan yang saya tuliskan di awal artikel ini, adalah orang-orang yang tidak mengerti apa-apa tentang kebenaran. Ini bukan ejekan saya, namun fakta yang saya temukan. Itu sebabnya saya tidak pernah merasa kecewa terhadap orang-orang yang suka menghina atau menyindir saya dengan kalimat di atas, karena mereka memang tidak tahu apa-apa. Mereka buta dalam pemahamannya tentang kebenaran, tapi selalu merasa sudah tahu kebenaran. Mereka masih berupa anak kecil yang hanya ingin hal-hal yang manis dan lunak saja, dan menolak makanan keras. Itu sebabnya, “barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil”. Inilah faktanya, Alkitab sendiri yang mengatakan bahwa jika anda hanya ingin mendengar hal-hal yang manis saja, itu berarti anda kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kebenaran.


Sebagian besar orang kristen adalah “anak-anak kecil” ini, sedikit sekali saya bertemu dengan orang-orang yang sudah “dewasa”. Meskipun sedikit, tapi saya memang pernah berbicara dan berdiskusi dengan mereka, saya kagum dengan pemahaman mereka. Meskipun kadang diantara kami ada perbedaan pemahaman tentang firman Tuhan, namun kami tidak saling mencela, apalagi menggunakan kalimat-kalimat di atas. Kami akan saling menjelaskan, dan karena tujuan kami sama-sama untuk kebenaran, meskipun kadang berdebat, tidak ada permusuhan diantara kami. Ketika apa yang saya sampaikan salah menurut mereka, mereka akan menjelaskan dengan baik-baik salahnya kepada saya, dan mengajarkan yang benar, dan terkadang itu mengubah pandangan saya. Demi mendapatkan kebenaran, saya tidak perlu merasa takut dan malu untuk mengakui kesalahan dan menerima kebenaran. Saya bukan orang suci, saya bukan orang yang hidupnya sudah beres, saya bukan orang yang bijaksana dan berhikmat, namun Tuhan tahu, saya orang yang mencari Kerajaan Tuhan dan KebenaranNya sambil terus memperbaiki diri agar bisa hidup suci, membereskan diri, bijaksana dan berhikmat bagi kemuliaan Tuhan.

Berkata Keras, Apakah itu Berarti Tidak Ada Kasih?


Apakah anda selalu berkata dengan lemah lembut kepada anak anda untuk menegur kesalahannya? Apakah anda sama sekali tidak pernah berkata hal-hal yang keras untuk menasehati anak anda? Apakah anda tidak mengasihi anak anda ketika anda berkata dengan keras kepadanya? Apakah anak anda akan langsung membenci dan menjauhi anda ketika anda memberikan teguran yang keras saat ia melakukan kesalahan? Kalau demikian, silakan anda berkata dengan lemah lembut kepada anak anda, dan ketika ia dewasa, anda akan melihat ia menjadi seorang pecundang.


Orangtua yang tidak pernah berkata keras kepada anaknya adalah orangtua yang sebenarnya tidak peduli pada anaknya. Itu sebabnya orangtua yang memanjakan anaknya dengan hal-hal yang menyenangkan saja, anak menjadikan anak tersebut tidak bisa menghadapi masa depan.


Banyak orangtua mengira memberikan hal-hal yang manis kepada anaknya, itu menunjukkan rasa sayangnya kepada anak, padahal mereka sedang merusaknya. Demikian juga jika anda hanya suka mengatakan hal-hal yang manis dan enak di dengar tentang firman Tuhan, apalagi anda hanya suka mendengar hla-hal yang manis saja, itu berarti anda seorang anak yang manja, yang hanya sanggup makan bubur.


Lucunya, kalau saya menggunakan analogi tentang anak dan orangtua ini, banyak orangtua kristen yang mengakui kadang mereka mengajar dan menegur anaknya dengan keras karena mereka sangat mengasihi anaknya dan tidak ingin anaknya terjerumus kedalam kesalahan. Tapi ketika berbicara tentang perkataan, pengajaran dan teguran yang keras demi kebenaran, mereka tetap ngotot itu tandanya tidak ada kasih dalam diri orang-orang yang berkata, mengajar dan menegur dengan keras ini. Mereka menganggap orang-orang yang berkata, mengajar dan menegur dengan keras adalah orang yang tidak memiliki kasih, suka menghakimi, tidak ada roh kudus, orang Farisi, dan SESAT.


Kebenaran adalah kebenaran meskipun dikatakan oleh orang yang paling kejam sekalipun. Kebenaran adalah kebenaran meskipun dikatakan oleh seorang pendusta. Anda mungkin berpikir, bagaimana mungkin saya mengetahui kebenaran itu kebenaran jika dikatakan oleh seorang penjahat yang kejam apalagi seorang pendusta? Itulah bodohnya anda, sudah sekian lama anda menjadi orang kristen, tapi tidak pernah beranjak dewasa, sudah sejak lahir anda menjadi kristen, tapi tidak pernah mau makanan keras. Anda mau tahu dari mana kebenaran itu memang kebenaran jika dikatakan oleh seorang pendusta? Silakan anda coba dulu makan makanan yang keras itu sampai anda bisa mengunyah dan menelannya dengan baik.


Haruskah Beres Dahulu Hidupmu Baru Engkau Menginjili?


Ketika anda mengaku percaya kepada Yesus, apakah saat itu juga seluruh hidup anda langsung berubah? Meskipun tidak mustahil, namun saya lebih percaya proses yang Tuhan berikan. Itu sebabnya banyak orang yang mengaku percaya Yesus, masih melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pengajaranNya atau dalam bahasa kerennya,”Masih melakukan dosa”. Seringkali orang yang mengaku percaya Yesus, masih melakukan dosa yang sama berulang-ulang. Apakah orang-orang seperti ini tidak boleh melayani dahulu di Gereja sampai hidupnya benar-benar beres? Apakah orang-orang seperti ini tidak boleh mempelajari Alkitab dan menginjili sampai hidupnya benar-benar beres? Kalau begitu, di kolong langit ini, tidak akan ada orang yang menginjili.


Mengalami perubahan ketika mengaku percaya Yesus, itu harus, tapi itu bukan instan yang langsung dalam sekejap mata berubah total.

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.. (Roma 12:1-3)

Persembahkanlah tubuhnya, jangan serupa dengan dunia ini, tetapi “Berubahlah oleh pembaharuan budimu”, Itulah yang dikatakan oleh Paulus. Setiap orang percaya harus berubah ke arah yang lebih baik, kearah yang berkenan kepada Tuhan. Tapi ingat, itu tidak instan. Perkataan Paulus di atas menunjukkan adanya proses yang harus berjalan. Lalu selama proses itu, apakah anda harus berdiam diri dan merasa tidak perlu melayani Tuhan apalagi memberitakan Injil? Kalau anda menunggu sempurna, kapankah kesempurnaan anda itu akan tiba. Terlebih lagi jika anda mengomentari kehidupan seseorang yang sedang melayani dan memberitakan Injil, apakah anda merasa lebih pantas dari dirinya?

Haruskah Segera Menginjili dan Melayani Tuhan?


Saya tidak mengatakan bahwa kita harus langsung membabibuta melayani dan memberitakan Injil ketika mengaku percaya kepada Yesus. Yesus-pun sebenarnya tidak menyukai cara-cara seperti ini, meskipun Ia tidak melarangnya. Yesus mau kita menjadi murid terlebih dahulu, belajar kepadaNya, dan akan tiba waktunya Yesus mau kita melayani dan menginjili untuk menjadikan orang lain murid Yesus. Itu sebabnya Yesus sering melarang orang-orang yang yang disembuhkannya menceritakan tentang diriNya. Ini salah satu contohnya :


Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapapun juga dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa. (Lukas 5:12-16)

Mengapa Yesus melarang orang memberitakan tentang diriNya? Apakah Yesus takut dan merasa terancam pelayananNya akan di ganggu oleh orang-orang Farisi bahkan pemerintah saat itu? Apakah Yesus takut Ia akan lebih cepat di bawa ke kayu salib dan menggagalkan rencana Bapa-Nya untuk menebus dosa manusia?


Saya memiliki pendapat sendiri. Menurut saya Yesus tidak mau orang memberitakan tentang diri-Nya secara sembarangan. Orang-orang yang baru mengalami mujizat dan orang-orang yang melihat mujizat, iman dan pemahamannya umumnya lemah. Itu sebabnya orang-orang ini tidak bisa dikategorikan sebagai orang yang beriman. Iman yang hanya sesaat, karena mengalami/melihat mujizat bukanlah iman. Itu sebabnya saya tidak begitu suka orang-orang yang baru mengalami mujizat kesembuhan diminta bersaksi ke berbagai Gereja, karena mereka belum tentu orang beriman.


Jika mengalami mujizat tidak membuat orang beriman, mengapa ada orang-orang yang disembuhkan oleh Yesus, Yesus mengatakan kepada orang tersebut “imanmu telah menyelamatkanmu”? Inilah sebagian kecil orang-orang yang memang beriman. Perhatikan, Orang-orang yang disembuhkan oleh Yesus, yang dinilai “beriman” oleh Yesus, Yesus tidak pernah melarang mereka untuk memberitakan tentang Yesus.


Meskipun ada orang-orang yang dilarang Yesus untuk memberitakan tentang diri-Nya, namun Yesus tidak marah, hanya saja Ia tidak mau mempercayakan diri-Nya kepada orang-orang yang semakin banyak datang kepada-Nya. Yesus lebih memilih menyingkir dan berdoa, karena Dia mencari “MURID”, orang-orang yang mau belajar kebenaranNya, bukan menikmati mujizatnya. Mujizat tidak mungkin membuat seseorang beriman kepada Tuhan, tapi orang beriman sangat mungkin mendapatkan mujizat Tuhan.


“Menjadi murid Yesus” adalah kalimat yang sangat saya sukai. Murid adalah seseorang yang belajar, murid adalah seseorang yang mau menjalani proses perubahan. Murid adalah seseorang yang bersedia mengisi hidupnya dengan pengetahuan. Apalagi jika sang Guru adalah Yesus sendiri. Saya tidak terlalu menyukai kalimat “anak Allah”. Banyak sekali orang Kristen yang sibuk menyebut diri “anak Allah”, tapi tidak pernah mau menjadi murid Yesus.


Yesus lebih menyukai Maria yang duduk diam dikakiNya dan mendengarkan pengajaranNya, dibandingkan dengan Marta yang sibuk melayani Dia (Lukas 10:38-42). Belajar tentang Yesus dan pengajarannya adalah sangat menyenangkan, karena Yesus lemah lembut dan rendah hati, jiwa kitapun akan mendapat ketenangan (Matius 11:29).


Belajar untuk mengerti dan memahami firman Tuhan adalah awal sebelum memulai pelayanan dan penginjilan. Saya tidak mengatakan bahwa anda harus memahami seluruh isi Alkitab dahulu, baru melayani, tapi ada iman dalam diri anda, dan anda tahu dengan pasti mengapa anda harus melayani. Dengan memahami mengapa anda harus melayani, anda akan melayani Tuhan dengan sukacita, bukan mendapatkan sukacita karena melayani, begitu juga dengan menginjili.


Lalu bagaimana dengan beresnya hidup? Jika anda tahu mengapa anda melayani dan menginjili, anda akan tahu mengapa anda harus “Berubah oleh pembaharuan Budimu”. Disitulah anda akan terus melatih diri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, apalagi membuat kesalahan baru.

Yesus-pun diTolak


Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?" Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!" Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. (Lukas 4:21-30).


Mengapa Yesus di tolak? Apakah karena Yesus berkata “tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”? Apakah karena is menyatakan diri sebagai kegenapan Injil Yesaya? Menurut anda, mengapa Yesus di tolak, bahkan mau dilemparkan dari atas tebing?


Yesus di tolak bukan karena mengajaranNya yang salah, Yesus ditolak bukan karena Yesus secara tidak langsung menyebutkan dirinya setara dengan Nabi. Yesus di tolak hanya karena Ia anak Yusuf, si tukang kayu. Tukang kayu seperti Yusuf tidak mungkin memiliki anak yang setara dengan Nabi. Itu alasan mereka. Tapi, mungkin ada diantara anda yang bertanya, memang kenapa masalahnya kalau Dia anak tukang kayu? Bukankah Yesus memberitakan Injil?


Disinilah masalahnya untuk anda semua yang suka mencemooh orang-orang “biasa” yang memberitakan Injil kepada anda. Anda yang suka mengatakan kalimat-kalimat seperti “Jangan bicara tentang Tuhan kalau hidupmu sendiri belum beres!“. Ayat Lukas 4 tersebut ditujukan untuk anda.
Jika anda saat itu hidup di jaman Yesus, dan mendengarkan pengajaran Yesus di bait suci tersebut, anda akan menjadi orang yang turut berusaha melemparkan Yesus dari atas tebing.


Mengapa? Tidak ada bedanya anda dengan orang-orang Yahudi pada saat itu. Saat itu, anda akan menilai Yesus bukanlah seorang yang layak untuk memberitakan Injil. Yesus, meskipun perkataannya “mengagumkan” namun Dia tidak pantas dan belum saatnya mengatakan hal tersebut, belum saatnya mengajar. Anda akan merasa yakin, seorang Yesus saat itu bukanlah seorang yang hidupnya sudah beres. Anda adalah orang yang mengatakan kepada Yesus untuk membereskan diriNya dahulu sebelum melayani dan memberitakan Injil. Anda adalah orang yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan dan menerima kebenaran.


Jangan mencemooh mereka yang ingin memberitakan Injil kepada anda. Perhatikan pengajarannya, jangan kehidupannya. Kalau anda tahu pengajarannya salah, silakan memberikan teguran dan mengajarkan yang benar. Kalau anda belum memahami apa yang mereka ajarkan, simpan dalam hati anda, dan baca kembali Alkitab anda untuk mencari dan mendapatkan kebenaran yang sejati. Jangan membuang kesempatan anda untuk mendapatkan KEBENARAN.


Seperti yang tertulis dalam Kitab Suci, "Betapa indahnya langkah orang yang datang memberitakan Kabar Baik." (Roma 10:15)

Comments