Skip to main content

Pdt Niko tdk perlu jawab tantangan pdt Stephen Tong dan Pdt Garren, Bocah yang Tidak Tahu Etika


Saya mengikuti ibadah live streaming yang dibawakan oleh Pdt. DR Stephen Tong pada hari minggu lalu (5 April 2020). Masalah Covid-19 yang saat ini mewabah, kembali di bahas oleh Pdt DR Stephen Tong (saya singkat saja namanya pak Tong). Sampai pada saat pak Tong mengatakan tentang seorang pendeta yang berani menghentikan Covid-19 dengan cara seperti Yesus menghentikan angin ribut. Pak Tong menyampaikan menyampaikan bahwa pendeta ini mencoba meniru kuasa Yesus. Kemudian beliau memberikan tantangan, bahkan kepada pendeta-pendeta di Indonesia yang mengaku punya kuasa kesembuhan atas nama Yesus. Silakan adakan KKR kesembuhan, sembuhkan mereka yang terkena Covid-19. Jika pendeta-pendeta ini tidak bisa menyembuhkan maka, mereka adalah nabi palsu. Nabi palsu harus mati.

Mendengar ini, dalam hati saya berkata, ini akan menjadi viral dan membuat kehebohan. Tapi menurut saya, hal ini sangat perlu disampaikan dan harus disampaikan dengan keras. Saat ini, ditengah wabah Corona, dengan korban yang terus bertambah setiap harinya, kemanakah pendeta-pendeta yang mengaku punya kuasa dalam nama Yesus untuk menyembuhkan? Kenapa mereka tidak berani mengadakan KKR kesembuhan untuk melawan Covid-19? Mengapa mereka tidak berani datang ke rumah sakit dimana pasien Covid-19 berada.

Saya sangat mendukung apa yang disampaikan oleh pak Tong. Bertahun-tahun yang lalu saya pernah menyelidiki tentang KKR kesembuhan. Benarkah mereka sembuh? Kalau mereka benar disembuhkan, mengapa ketika kembali ke rumah penyakitnya kambuh kembali? Kuasa Tuhankah yang menyembuhkan? Kalau benar kuasa Tuhan, mengapa pemberitaan firmannya sedikit bahkan dangkal sekali, mereka hanya sibuk membahas mujizat dan fokus untuk mujizat saja. Atau kuasa setan yang bekerja disana? Kalau kuasa setan, mengapakah berani memakai nama Yesus?

Dahulu saya sangat tertarik sekali dengan kuasa penyembuhan dan pengusiran setan. Tapi semakin saya belajar Firman Tuhan, perlahan timbul keraguan, banyak sekali pertentangan dengan kesembuhan yang terjadi di Alkitab. Sampai akhirnya saya coba mencari tahu, mengamati kotbah-kotbah pendeta yang katanya bisa menyembuhkan dalam nama Yesus, saya perhatikan rekaman-rekaman video kesembuhan dengan teliti, saya lihat dengan hati-hati apakah mujizat itu, saya bandingkan orang sakit dan orang sehat. Hasilnya, hampir semua hanyalah omong kosong. Mengapa saya katakan “hampir semuanya”, karena ada beberapa yang saya sendiri belum tahu itu benar kesembuhan yang terjadi atau tidak. Saya tidak berani menilai sembarangan. Saat ini jika melihat rekaman vidoe penyembuhan, saya bisa langsung tahu kesembuhan itu terjadi atau tidak, bukan karena saya hebat, tapi karena saya sudah pernah mempelajarinya dengan teliti. Bahkan saya bisa ajarkan trik untuk melakukan kesembuhan ilahi, tapi itu adalah penipuan.

Kita kembali lagi ke masalah tantangan pak Tong. Saat pak Tong menyampaikan hal ini, saya tidak tahu siapa pendeta yang terkenal itu yang dimaksudkan pak Tong. Tapi tidak butuh waktu lama, dugaan saya yang dimaksud adalah Pdt. DR Ir. Niko Njotorahardjo, karena saya dapat potongan video rekaman perkataan pdt Niko tentang hal ini. Agar tidak salah, saya juga sudah melihat video lengkap kotbah pak Niko tentang Covid-19 ini. 

Jika melihat rekaman pdt Niko secara lengkap, sejak awal rekaman video, tidak terlihat adanya masalah tentang apa yang disampaikan pdt Niko, tapi memang sampai pada pdt. Niko mengatakan “Yesus menyuruh saya saya… “ disinilah masalahnya, dan memang rekaman yang banyak beredar adalah potongan rekaman dari perkataan ini.

Saya akan mengutip perkataan pdt Niko dari rekaman pada alamat berikut :

Saya akan mengutipnya mulai dari menit ke 10.47 sampai 12.02

“tetapi sekarang Tuhan Yesus menyuruh saya untuk melakukan seperti apa yang telah di lakukan oleh Tuhan Yesus, yaitu dengan menghardik badai itu dan berkata Diam, Tenanglah! Karena itu sekarang saya memerintahkan kepada Covid-19 dan kepada krisis ekonomi dan berkata : Diam, Tenanglah! Kita sekarang memasuki peperangan rohani yang dahsyat, mari, saya mengajak saudara untuk berdoa seperti itu. Kita memerintahkan kepada Covid-19 dan kepada krisis ekonomi dan berkata : Diam, Tenanglah! dalam melakukan peperangan rohani ini saudara harus banyak berbahasa roh. Saya percaya setiap kita menginginkan badai Covid-19 dan krisis ekonomi cepat berlalu. Karena itu Gereja Tuhan harus bersatu, jangan saling menyalahkan, jangan saling menjelekkan. Saya percaya, melalui peristiwa ini justru Tuhan menghendaki agar Gereja Tuhan menjadi satu, Unity, seperti yang dikatakan dalam Yohanes 17 bahwa unity adalah kunci utama untuk terjadinya penuaian jiwa-jiwa.”

Sepertinya perkataan pdt Niko seperti inilah yang di kritik oleh pak Tong. Haruskah pdt Niko menerima tantangan pdt Stephen Tong? Menurut saya tidak perlu, tapi pdt Niko HARUS MEMPERTANGGUNGJAWABKAN perkataannya sendiri. Dan disini saya akan buktikan bualannya Pdt. Niko.

Sulitkah membuktikan pdt Niko nabi palsu dan hanya membual? Saya akan tunjukkan disini :

  1. Yesus menyuruhnya

“tetapi sekarang Tuhan Yesus menyuruh saya”. Benarkah? Benarkah Yesus menyuruh pdt Niko untuk melakukan seperti apa yang telah dilakukan Yesus? Apakah pdt Niko mendengar langsung perkataan Yesus? Saya rasa tidak ada saksi seorangpun yang bisa mendukung perkataan pdt Niko ini, sementara Alkitab mengatakan setidaknya dibutuhkan 2 orang saksi untuk mendukung suatu kesaksian. Tapi, tunggu dulu, inikan katanya Tuhan Yesus yang berbicara langsung dan mugkin saat pdt Niko berdoa seorang diri, itu sebabnya tidak ada saksi. Satu-satunya cara untuk mengujinya adalah apabila apa yang diperintahkan Yesus itu benar-benar terjadi.

  1. Menghardik Covid-19 dan krisis ekonomi seperti Yesus menghardik badai.

Oke, anggaplah bahwa Tuhan Yesus memang menyuruh pdt Niko menghardik Covid-19 dan krisis ekonomi seperti Yesus menghardik badai. Lalu, apa yang terjadi? Ketika Yesus menghardik badai, apa yang terjadi?

Saya mengutip Markus 4:39 :
Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
Apa yang terjadi saat Yesus menghardik badai itu? Lalu angin itu reda dan menjadi teduh sekali. Kejadian ini menunjukkan peristiwa yang terjadi seketika itu juga, badai langsung reda dan menjadi teduh. Badai reda dan teduh ini tidak membutuhkan waktu lama, itu sebabnya murid-muridNya menjdi takut dan bingung terhadap Yesus. Jika badai reda secara perlahan dan alami, murid-murid tidak akan merasa takut, karena itu adalah peristiwa alam biasa, badai memang bisa reda. Tapi rasa takut para muridlah yang menunjukkan redanya badai tiu terjadi seketika itu juga.

Bagaimana dengan hardikkan pdt. Niko? Beliau mengatakan diperintahkan Tuhan Yesus untuk menghardik seperti Yesus menghardik badai, bahkan menggunakan perkataan yang sama : Diam! Tenanglah!. Jika memang benar Yesus yang menyuruh berdasarkan kisah Yesus menghardik badai, maka Tuhan Yesus pasti punya tujuan , dan saya yakin setidaknya salah satu tujuannya adalah untuk menghentikan Covid-19 dan krisis moneter secara seketika, sama seperti badai yang reda seketika itu juga.

Pdt. Niko hanya memanfaatkan ayat tentang Yesus menghentikan badai dengan perkataan Diam! Tenanglah!. Sepertinya hanya perkataan ini yang dijadikan bukti olehnya bahwa ia benar-benar diperintahkan Yesus dan perintah itu tidak bertentangan dengan Alkitab. Tapi, Pdt Niko sepertinya tidak sadar bahwa tidak semua orang bisa dibohongi olehnya. Jika memang ayat ini yang digunakan, seharusnya ia tahu bahwa ada kisah lanjutan dari Yesus menghentikan badai. Karena terbiasa mengutip ayat sembarangan dan pengikutnya juga banyak yang tidak memperhatikan, pdt Niko tidak tahu bahwa ada orang-orang yang kritis dan melihat adanya masalah dari kutipan dia.
Pdt. Niko tidak bisa hanya mengambil sepotongan ayat, tapi bacalah kisah itu dengan lengkap. Tidak perlu lengkap sekali sebenarnya, karena ia hanya menyamakan dirinya dengan hardikkan Yesus. Tetapi efek dari hardikan itu yang harus diperhatikan. Setelah di hardik oleh Yesus, apa yang terjadi? Setelah di hardik oleh pdt. Niko, apayang terjadi? Jangan sepotong-sepotong mengambil ayat hanya untuk menunjukkan diri sedang di pakai Tuhan, tapi cobalah dengan jujur melihat catatan lengkap dari ayat tersebut.


Pdt. Niko di video yang sama juga menghardik Covid-19 dan krisis ekonomi, bahkan beberapa kali. Apakah seketika itu juga Covid-19 langsung tidak berdaya, dan krisis ekonomi langsung lenyap? Susah untuk membuktikan krisis ekonomi berhenti, tapi kita akan melihat Covid-19 yang memang jadi perdebatan utama.

Video rekaman pdt Niko bertanggal 31 Maret 2020, itu kira-kira seminggu yang lalu dari saya menuliskan artikel ini. Berhentikah Covid-19? Bagaimana membuktikannya? Kalau memang benar pdt Niko diperintahkan Tuhan Yesus untuk menghentikan Covid-19, seharusnya jumlah korban yang terinfeksi tidak bertambah. Faktanya setiap hari, sampai saya menuliskan artikel ini, virus Covid-19 belum berhenti menginfeksi korban-korbannya. Tapi okelah, biasanya berdasarkan pengalaman saya, para pendukung pendeta seperti ini maupun pdt Niko sendiri mungkin punya alasan. “Hasil tes Covid-19 kan dalam beberapa hari, bisa saja mereka sudah di tes sebelum pdt Niko menghardik, jadi jumlah korban akan tetap bertambah dlam beberapa hari ke depan, padahal orang tersebut sudah disembuhkan karena hardikan pdt. Niko.

Oke, ini alasan bisa saya terima. Tapi satu-satunya bukti bahwa benar Tuhan Yesus menyuruh pdt Niko menghentikan Covid-19 adalah korban yang meninggal seharusnya tidak ada lagi saat ini. Faktanya, setiap hari tetap banyak korban yang meninggal.

Terjadikah apa yang dikatakan pdt Niko? Jika seorang nabi dengan berani mengatakan perkataan yang tidak diperintahkan Tuhan, dan perkataannya itu tidak terjadi, maka dia itu adalah NABI PALSU.

Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah o  lain, nabi itu harus mati. Ulangan 18:20

Pdt Niko mengatakan ia di suruh dan diperintahkan Tuhan Yesus untuk menghardik Covid-19 dan krisis ekonomi, mengapa ia harus mengajak yang lainnya? Ia tidak mengatakan bahwa Tuhan yesus melalui dia meminta untuk setiap orang Kristen menghardik Covid-19 dan krisis ekonomi. Mengapa pdt Niko mengajak juga yang lainnya untuk turut menghardik dan meminta Gereja bersatu?

Tahukah anda, seorang pembual yang dibiarkan terus bercerita, suatu saat akan menentang bualannya sendiri. Karena tidak diperintah Yesus, tetapi hanya bualan pdt Niko saja bahwa ia diperintahkan Yesus, maka kalimat berikutnya ia mengajak orang lain untuk turut menghardik juga, padahal itu tidak diperintahkan Yesus. Kalimat ajakan yang dikatakan pdt. Niko adalah sebuah kalimat ajakan biasa yang sering dilakukan para pendeta, tapi mengajak untuk menghardik padahal hanya ia sendiri yang diperintahkan Yesus, justru menunjukkan Yesus tidak pernah memerintahkannya untuk melakukan itu. Itu sebabnya ia dengan mudah mengajak orang lain untuk turut serta.

Orang seperti pdt Niko ini akan punya sejuta alasan ketika perkataannya tidak terjadi. Bisa saja dia mengaku orang-orang disekitarnya saja yang diijinkan sembuh, atau mujizat terjadi hanya atas dirinya dan beberapa orang lainnya yang ia tentukan sendiri. Atau bisa juga ia mengatakan hanya kepada orang-orang yang sungguh-sungguh saja mujizat kesembuhan dari Covid-19 terjadi. Atau, bukankah ia menyebutkan setelah Paskah? Masih banyak alasan lainnya yang bisa saya tuliskan, tapi biarlah, kita lihat saja nanti.



Sebagai tambahan, saya juga akan merespon surat terbuka dari pdt Garen Lumoindong kepada pdt DR Stephen Tong.

Surat terbuka ini dituliskan oleh pdt Garren tanpa ditujukan ke siapa. Tidak di tulis namanya, tetapi cukup jelas buat saya kalau Surat Terbuka ini ditujukan kepada Pdt. DR Stephen Tong. Berikut saya kutip isi suratnya :

“Surat Terbuka Untuk Engkong”
 Ada seorang Engkong yang ditengah-tengah wabah dan bencana corona bukannya malah meneguhkan dan menyatukan Gereja Tuhan tetapi malah pakai kesempatan ini untuk menyerang gereja lain dan melegitimasikan doktrin sendiri, supaya terlihat paling benar dan paling hebat.
 Engkong pikir ada pendeta yang bisa buat mujizat dan menyembuhkan? Coba tunjukkan satu saja pendeta di Indonesia yang berkata dia sanggup menyembuhkan dan melakukan mujizat. Kalau ada mereka harus dipolisikan, karena itu penistaan agama. Hanya Yesus yang sanggup melakukan mujizat bukan pendeta. Namun nyatanya tidak ada yang mengklaim demikian. Engkong hanya menggiring opini dan menyebarkan hoax saja.
 Engkong memberi tantangan yang tidak masuk akal, karena itu saya akan menjawab tantangan itu dengan tantangan. Saya menantang Engkong menjadikan Gereja Engkong yang sangat besar, yang disertai aula music termewah di Indonesia yang bernilai puluhan milyar bahkan ratusan milyar, untuk dibuka dan dijadikan ruang isolasi Covid-19. Mari kita lihat apakah Engkong Cuma bisa sembarang menantang atau punya integritas.
 Yang terakhir Engkong berkoar-koar selama ini hanya satu arah. Saya undang dengan hormat dan dengan kasih untuk berdiskusi secara publik bersama teolog-teolog Pentakosta dan Karismatik. Karena saya dengar berkali-kali Engkaong diundang berdiskusi atau berdebat namun tidak bersedia, waduh semoga tidak benar, karena kalau Cuma menyerang satu arah semua juga bisa Kong. Ayo berani pertahankan juga. Selama Corona pertemuan bisa diatur secara online atau pertemuan tertutup yang disiarkan livejuga boleh. Tapi Engkong harus ikut, jangan hanya ring 1 atau ring 2 yang maju, tenang saja kita semua beretika dan penuh kasih kok Engkong.
 Semua ini saya sampaikan setelah saya berdoa berulang kali, karena saya mengasihi jemaat Tuhan. Semoga kita dewasa rohani di masa-masa ini dan biarlah Allah menyertai dan menyelamatkan kita semua. Amin
 Love
Pdt. Garren Lumoindong S.Th
(Seorang hamba Tuhan yang masih belajar, termasuk dari Engkong dan hamba-hamba Tuhan senior lainnya)
Tanggapan saya :

Diawal membaca surat terbuka dari Pdt Garren ini, saya langsung mengatakan “Anak ini tidak tahu etika dan sopan santun”. Engkong adalah sebutan untuk orang tua keturunan CIna. Tidak ada yang salah dengan sebutan Engkong, ini salah satu panggilan untuk orang yang lebih tua atau bisa diartikan kakek.. Hanya saja kata ini digunakan di waktu dan tempat yang salah. Pdt Garren menyebut Engkong adalah karena kemarahan dan kebenciannya, bukan karena penghormatan.

Selesai membaca surat ini, saya mengatakan “pdt Garren bukan hanya tidak tahu etika dan sopan santun, tapi juga seorang pendeta munafik.” Ia mengatakan penuh kasih, padahal jelas, surat terbuka ini memperlihatkan kebenciannya pada sosok Pdt Stephen Tong, sampai-sampai ia tidak mau menyebutkan namanya, tapi menyebutnya dengan Engkong. Dimana kasihnya?

Apakah pdt Garren di tengah wabah ini menyatukan Gereja? Sama sekali tidak. Kalau ia sendiri tidak melakukannya, buat apa menyuruh orang lain melakukannya? Pdt Stephen Tong juga tidak menyerang Gereja lain, tapi memberi peringatan dan tantangan kepada pendeta yang suka menjual nama Yesus untuk memuaskan nafsu sendiri. Tantangan yang disampaikan Pdt Stephen Tong bukan untuk membenarkan doktrin sendiri tapi menyatakan kesalahan pendeta yang merasa bisa menghentikan Covid-19 dengan meniru tindakan dan perkataan Yesus. Pdt Stephen Tong justru membongkar penipuan yang dilakukan oleh pendeta-pendeta yang suka menjual nama Yesus. Kebusukan pendeta-pendeta penipu seperti ini sudah lama terjadi, saya yang hanya jemaat awam saja sudah lama merasa geram dengan pendeta-pendeta seperti ini, apalagi seorang pendeta seperti Stephen Tong. Ia memperingatkan jemaat untuk berhati-hati dan harus berani menghadapi nabi-nabi palsu yang merasa dipakai Tuhan untuk melakukan mujizat, padahal Tuhan sama sekali tidak memakainya.

Engkong pikir ada pendeta yang bisa buat mujizat dan menyembuhkan? Coba tunjukkan satu saja pendeta di Indonesia yang berkata dia sanggup menyembuhkan dan melakukan mujizat. Kalau ada mereka harus dipolisikan, karena itu penistaan agama. Hanya Yesus yang sanggup melakukan mujizat bukan pendeta. Namun nyatanya tidak ada yang mengklaim demikian. Engkong hanya menggiring opini dan menyebarkan hoax saja.

Inilah alasan yang dibuat oleh pendeta-pendeta yang menjual nama Yesus. Tidak ada pendeta yang bisa menyembuhkan, hanya Yesus yang mampu menyembuhkan. Justru ini menunjukkan pendeta Garren sedang melempar kesalahannya pada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang diminta bertanggung jawab jika kesembuhan tidak terjadi, bukan dirinya. Ini sangat menjijikan. Beginilah cara-cara pendeta yang mengaku punya kuasa kesembuhan atas nama Yesus. “Bukan saya yang menyembuhkan, tetapi Yesus”. Padahal ketika orang yang disembuhkan itu merasa sembuh, siapakah yang dikaguminya, Yesus atau pendeta yang menyembuhkannya? Nama Yesus digunakan karena ia sedang pamer imannya kepada Yesus, bukan karena berserah kepada Yesus dalam menyembuhkan. Perhatikanlah dengan teliti pendeta-pendeta seperti ini, terutama pendeta Garren ini. Tidak ada satu pendetapun yang mengklaim dirinya bisa menyembuhkan. Ini memang benar, karena mereka menjual nama Yesus dan merasa tidak bersalah ketika kesembuhan tidak terjadi.

Pdt Garren menjawab tantangan? HAHAHA… pdt Garren sama sekali tidak menjawab tantangan, ia hanya seorang penakut. Itu sebabnya ia tidak berani menuliskan nama kepada siapa surat terbuka ini ditujukan. Seharusnya kalaupun tidak mau menuliskan namanya, sebut saja seperti Pdt Stephen sebut "Seorang pendeta besar di Indonesia" atau "Seorang pdt di Indonesia", itu jauh lebih sopan. Pdt Garren menantang balik? Kepada siapa tantangan itu ditujukan? Kalau sampai pdt. Stephen Tong merespon tantangan ini, itu justru menjadi aneh buat saya, karena merespon hinaan seorang Garren Lumoindong. Pdt Garren yang sama sekali tidak memiliki keberanian dan integritas, niatnya ingin menantang pdt Stephen Tong, tapi hatinya ketar-ketir dan tidak berani, namun penuh dengan kemarahan.

Yang terakhir Engkong berkoar-koar selama ini hanya satu arah. Saya undang dengan hormat dan dengan kasih untuk berdiskusi secara publik bersama teolog-teolog Pentakosta dan Karismatik. Karena saya dengar berkali-kali Engkaong diundang berdiskusi atau berdebat namun tidak bersedia, waduh semoga tidak benar, karena kalau Cuma menyerang satu arah semua juga bisa Kong. Ayo berani pertahankan juga. Selama Corona pertemuan bisa diatur secara online atau pertemuan tertutup yang disiarkan live juga boleh. Tapi Engkong harus ikut, jangan hanya ring 1 atau ring 2 yang maju, tenang saja kita semua beretika dan penuh kasih kok Engkong.

Perhatikan saja, betapa pengecutnya pendeta Garren ini, ia mengaku mengundang, tapi yang dibawa adalah teolog-teolog Pentakosta dan Karismatik, bukan dirinya sendiri. Lucunya ia minta pdt Stephen Tong ikut, tapi dirinya sendiri tidak disebutkan akan turut hadir. Ngakunya beretika dan penuh kasih, tapi yang ditunjukkan hanya sifat bocah ingusan yang tidak tahu etika dan sama sekali tidak ada kasih didalamnya. Pdt Garren Lumoindong bukanlah seorang yang jujur. Penuh kemarahan tapi tampil munafik dengan pura-pura penuh kasih.

Semua ini saya sampaikan setelah saya berdoa berulang kali, karena saya mengasihi jemaat Tuhan. Semoga kita dewasa rohani di masa-masa ini dan biarlah Allah menyertai dan menyelamatkan kita semua. Amin

Dewasa rohani? Tepok jidat saya, kalau memang pdt Garren dewasa rohani. Rohaninya sangat kekanakan. Satu hal lagi, melihat surat terbuka ini, saya justru kasihan kepada pdt Garren. Sifat kekanakan, tidak tahu etika dan munafik, pasti berasal dari kegagalan pdt Gilbert Lumoindong dalam mendidik anak ini.


Catatan : Tulisan ini saya buat bukan karena saya beribadah di Gereja yang di pimpin oleh Pdt. DR Stephen Tong dan juga bukan sebagai pembelaan kepada beliau. Ini adalah ungkapan kegeraman saya kepada pendeta-pendeta penipu yang menjual nama Yesus melalui mujizat palsu. Saya hanyalah jemaat awam, tapi Tuhan mendidik saya dengan melihat begitu banyak hal yang tampak ajaib dan mengagumkan seperti mujizat kesembuhan, pengusiran setan dan hal-hal yang masuk kategori gaib lainnya. Tapi Tuhan juga mendidik saya dengan rasa penasaran dan ingin tahu tentang hal-hal ini, sehingga akhirnya saya mempelajari, mengamati, meneliti dan mendapatkan jawaban-jawaban seperti apa itu mujizat yang asli dan yang palsu. Sampai hari ini saya percaya Tuhan Yesus bisa menyembuhkan dengan caranya yang ajaib, termasuk memberikan kuasa kepada setiap orang percaya untuk mengusir setan. Tapi pertunjukan-pertunjukan dalam KKR kesembuhan dan pengusiran setan, sepanjang pengalaman saya, semuanya adalah penipuan.

Terima kasih kepada Pdt. DR Stephen Tong yang berani memberikan teguran keras secara terbuka ini, saya berharap banyak jemaat disadarkan dan mau waspada serta berhati-hati dan lebih serius lagi dalam membaca, merenungkan dan mempelajari Alkitab. Karena saya percaya barang siapa yang lapar dan haus akan kebenaran, akan dipuaskan dan diisi oleh kebenaran itu yang adalah Yesus Kristus sendiri.

Untuk para pendukung Pdt. Niko, tidak perlu repot membela beliau, satu-satunya cara membela adalah dengan menunjukkan bukti bahwa perkataan pdt. Niko benar-benar terjadi. Covid-19 berhenti seketika, bukan menunggu hitungan minggu apalagi berbulan-bulan. Kalau perkataannya benar-benar terjadi, sampaikan kepada Pdt. Stephen Tong untuk sekaligus membungkam perkataannya.


Segala kemuliaan saya kembalikan kepada Tuhan Yesus Kristus. Terpujilah untuk selamanya.

Comments

Diamondthatha said…
😄 😆 pengikut pdt stephen tong gk terima nih ye... ada yg skakmatin omongannya stephen tong... asal situ tau.... orang betawi manggil kakek jg dgn sebutan engkong... sekalipun bukan turunan china... mohon maaf sekarang anda membalas komentar pdt.garren dgn kata2 yg tidak masuk akal mohon maaf nihh sangat jelas terlihat ada iri hati dibalik tulisan anda 🤔
Tirta Wong said…
Coba tanyakan pdt stephen tong, kenapa dulu lengkapnya Pdt. DR. Stephen Tong. Tp sekarang jadi Pdt. DR.(HC) Stephen Tong. Ada beda HC nya. Kenapa? Mohon tanggapannya?
Anonymous said…
Judy husin oge sarua na lah..
Pdt. Niko ini memang Nabi Palsu. Kasihan banyak jemaat ditipu ajarannya.
Anonymous said…
yaelah Garen bisa apa sih? Cuma bisa hipnotis orang pake sepatu doang wkwkwk