Skip to main content

Tidak Menjalankan Perintah Tuhan = Dosa? TIDAK!

Sumber gambar : http://thepreachersword.com
Sejak kecil khususnya didalam pelajaran agama di sekolah-sekolah atau juga bahkan di sekolah minggu, kita sering diajarkan bahwa “kita harus menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya.” Hal ini terus ditanamkan di dalam diri kita dengan tujuan agar kita menjadi orang baik, taat pada perintah Tuhan, dan tidak melanggar perintah Tuhan yang mengakibatkan kita berdosa. Ya, seringkali kita merasa terancam dan takut berdosa jika kita tidak dapat atau tidak menjalankan perintah Tuhan. Terkadang kita juga diancam dengan murka Tuhan, Tuhan akan marah jika kita tidak menjalankan perintah-Nya. Alkitab perjanjian lama, menunjukkan banyak peristiwa malapetaka jika bangsa Israel tidak taat kepada Tuhan, namun saya melihatnya berbeda di perjanjian baru yang digenapi oleh Yesus.


Benarkah tidak menjalankan perintah Tuhan atau tidak taat menjalankan perintah Tuhan akan mengakibatkan dosa? Bagaimana kalau orang tersebut tidak mampu menjalankannya? Bagaimana kalau ia tidak berhasil menyelesaikannya? Bagaimana kalau hanya sebagian yang bisa dijalankannya? Bagaimana kalau ditengah jalan ia berubah pikiran? Berdosakah mereka yang tidak menjalankan perintah Tuhan? Berdosakah jika melakukan larangan-Nya?


Kesepuluh Orang Kusta


Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galile. Ketika Ia memasuki suatu desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan, mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain daripada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Lukas 17:11-19


Apa yang terjadi pada peristiwa tersebut? Ada 10 orang sakit kusta yang mendatangi Yesus karena berharap disembuhkan. Yesus memerintahkan mereka untuk memperlihatkan diri kepada imam-imam. Apa tujuan Yesus meminta mereka memperlihatkan diri kepada imam-imam? Apakah Yesus ingin menunjukkan bahwa dihadapan para imam 10 orang tersebut sembuh? Entahlah, saya tidak mengetahuinya, tapi kisah berikutnya cukup menarik.


Di tengah perjalanan, mereka semua menjadi sembuh. Dari ke 10 orang tersebut, ada 1 orang yang kembali kepada Yesus sambil memuliakan Tuhan dengan suara nyaring. Ia sangat senang sekali karena sudah disembuhkan dan bersyukur kepada Tuhan dihadapan Yesus. Ia adalah seorang Samaria yang saat itu dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai orang-orang yang tidak benar, dan tidak disukai orang orang Yahudi.


Ketika orang Samaria tersebut tersungkur di hadapan Yesus, Yesus mempertanyakan kemana 9 orang lainnya, bukankah mereka juga telah disembuhkan, mengapa mereka tidak ikut kembali untuk memuliakan Tuhan? Apakah setelah disembuhkan mereka lupa bersyukur kepada Tuhan dan pergi dengan begitu saja?


Hal ini yang sudah cukup lama menjadi pertanyaan pada diri saya. Pertanyaan saya adalah Salahkah ke 9 orang tersebut karena tidak kembali kepada Yesus? Tidak ada penjelasan lanjutan apa yang dilakukan oleh ke 9 orang tersebut, namun saya juga tidak bisa melihat kesalahan mereka, lebih tepatnya, menurut saya belum tentu mereka melakukan kesalahan.


Pada awalnya Yesus memerintahkan kepada ke 10 orang kusta untuk memperlihatkan diri kepada imam-imam. Apa tujuan Yesus? Saya tidak tahu, tapi ke 10 orang tersebut melaksanakan perintah Yesus. Di perjalanan, mereka mengalami kesembuhan. 1 orang kembali kepada Yesus, lalu kemanakah yang 9 orang? Tidak diceritakan, namun berdasarkan perintah Yesus sebelumnya, saya memperkirakan mereka tetap menjalankan perintah Yesus yaitu memperlihatkan diri dihadapan imam-imam. Siapakah yang sebenarnya tidak menjalankan perintah Yesus? Yang tidak menjalankan perintah Yesus adalah orang Samaria yang kembali kepada Yesus. Tapi mengapa Yesus justru secara tidak langsung memuji 1 orang yang tidak menjalankan perintah-Nya, dan mempertanyakan 9 orang yang kemungkinan menjalankan perintah-Nya?


Jikalau kita diajarkan bahwa tidak menjalankan perintah Tuhan itu berarti dosa, maka pada kisah diatas yang seharusnya melakukan dosa adalah orang Samaria yang tidak menjalankan perintah Yesus tersebut. Tapi mengapa setiap kali ketika pendeta/hamba Tuhan menjelaskan kisahnya, umumnya mereka memuji orang Samaria yang tidak menjalankan perintah Yesus, dan menganggap 9 orang yang mungkin menjalankan perintah Yesus sebagai orang yang berdosa karena tidak tahu bersyukur kepada Tuhan.


Lalu mengapa Yesus “memuji ” orang Samaria yang tidak menjalankan perintah-Nya? Bukankah seharusnya Yesus juga “memuji” ke 9 orang lainnya yang lebih taat kepada perintah-Nya? Apakah ke 9 orang tersebut tidak merasa bersyukur karena telah sembuh? Saya memperkirakan mereka tetap bersyukur dan bersukacita karena sembuh, itu sebabnya mereka kemungkinan tetap menjalankan perintah Yesus untuk memperlihatkan diri dihadapan para imam tentang kesembuhan mereka.


Yesus membenarkan orang Samaria tersebut karena perbuatan berdasarkan imannya. Yesus mempertanyakan ke 9 orang Iman ke 9 orang tersebut yang berbeda dengan iman yang 1 orang ini. Tapi Yesus tidak menganggap berdosa yang 9 orang maupun yang 1 orang ini karena menjalankan perintah-Nya atau tidak. Yesus juga tetap menyembuhkan mereka semua dari sakit kustanya, dan tidak pernah tercatat yang ke 9 orang tersebut penyakit kustanya kambuh kembali.


Ini juga menjawab pendeta-pendeta yang katanya punya kuasa menyembuhkan. Mereka suka mengklaim ketika seseorang yang sudah dinyatakan “sembuh” olehnya kemudian penyakitnya kambuh kembali atau yang tidak disembuhkan, mereka akan mengatakan “karena kurang beriman”, “karena masih ada dosa”, “karena tidak taat kepada Tuhan”, “karena kurang percaya”. Kisah 10 orang kusta ini menjawab bahwa kesembuhan bukanlah berdasarkan “iman, percaya, ketaatan, ataupun dosa”, kesembuhan adalah masalah kehendak Tuhan. Jika Tuhan ingin menyembuhkan, maka tidak peduli seperti apa iman mereka, sebesar apa dosa mereka, seperti apa ketaatan mereka dan meskipun tidak percaya Tuhan, Tuhan tetap akan menyembuhkan dan penyakitnya tidak akan kembali lagi. Jadi, pendeta yang menggunakan klaim kesembuhan berdasarkan iman, percaya, dosa dan ketaatan adalah pendeta-pendeta yang sedang berusaha meninggikan diri sendiri dengan cara menipu anda semua.


Jadi kisah 10 orang sakit kusta ini menunjukkan bahwa ketika seseorang tidak menjalankan perintah Tuhan, tidak berarti bahwa mereka melakukan dosa. Jika seseorang tidak menjalankan perintah Tuhan, namun mereka melakukan sesuatu yang juga memuliakan Tuhan, bahkan lebih memuliakan Tuhan, maka itu bukanlah sebuah dosa. Menjalankan perintah Tuhan tidak berarti dosa atau tidak, dan juga tidak berarti taat kepada Tuhan atau tidak. Sepanjang yang dilakukannya tetap untuk Tuhan, Tuhan akan membenarkan orang tersebut.


Yesus Menyembuhkan Seorang yang Sakit Kusta


Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut dihadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi, namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. Markus 1:40-45.


Berbeda dengan kisah 10 orang kusta, dalam kisah Markus 1:40-45 ini Yesus didatangi oleh 1 orang kusta dan memohon kesembuhannya. Saat itu juga hati Yesus tergerak dan ia langsung menyembuhkannya. Sesudah menyembuhkan, Yesus memperingatkan dengan keras orang tersebut agar tidak menceritakan kepada siapapun tentang mujizat yang diterimanya, tapi cukup memperlihatkan diri kepada imam dan memberikan persembahan seperti yang diperintahkan Musa. Apa yang terjadi? Orang tersebut justru sibuk memberitakan peristiwa yang baru dialaminya, sehingga Yesus terpaksa harus menyingkir dari tempat itu dan tinggal di luar wilayah tersebut.


Sekali lagi, ini adalah contoh orang yang tidak taat dan tidak menjalankan perintah Yesus. Yesus sudah memperingatkan dengan keras agar jangan menceritakan kepada siapapun, tetapi orang ini lebih suka untuk tidak taat dan melakukan apa yang dilarang Yesus. Apakah orang ini menjalankan perintah Yesus untuk memperlihatkan diri di hadapan para imam dan mempersembahkan pentahirannya? Alkitab tidak mencatatnya, mungkin saja ia melakukannya, tapi mungkin juga tidak, karena ia terlalu sibuk memberitakan kesembuhannya. Dan dengan memberitakan kesembuhannya berarti ia melakukan larangan Yesus. Berdosakah dia?


Orang ini tidak menjalankan perintah Yesus bahkan terkesan melawannya, berdosakah orang ini? Yesus tidak pernah menyatakan orang ini berdosa, dan penyakitnya pun tidak kambuh lagi. Yesus membiarkannya dan memilih untuk menyingkir ke tempat sepi. Kisah Yesus menyembuhkan seorang sakit kusta ini menunjukkan ketika seseorang tidak menjalankan perintah Yesus, bahkan ketika terkesan menentang-Nya pun, itu tetap tidak dosa. Tapi sekali lagi, penentangan yang dilakukan juga untuk tujuan baik, yaitu menceritakan sukacita kesembuhan yang di dapat dari Tuhan.


Kalau menurut catatan Lukas, peristiwa Yesus menyembuhkan 1 orang sakit kusta ini, terjadi lebih dahulu (Lukas 5:12-16) daripada ketika Yesus menyembuhkan 10 orang kusta (Lukas 17:11-19). Mungkin itu sebabnya ketika datang 10 orang kusta, Yesus langsung menyuruh mereka menghadap para imam, dan bukan menyembuhkannya terlebih dahulu. Mungkin ini untuk menghindari mereka memberitakan kemana-mana tentang kesembuhannya.


Perintah untuk Memberitakan Injil


Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia, mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman.” Matius 28:16-20.


Perintah Yesus ini sangat populer, karena inilah yang disebut sebagai Amanat Agung Yesus, yaitu kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Saat itu ada 11 murid Yesus. Apakah mereka menjalankan perintah Yesus ini? Ya, mereka menjalankannya, hanya saja mereka tidak menjalankannya sampai membuat semua bangsa menjadi murid Yesus. 11 murid Yesus bisa dikatakan GAGAL dalam menjalankan perintah Yesus, karena sampai kematian mereka, Injil belum diberitakan ke semua bangsa oleh mereka. Mereka hanya menjalankan sebagian dari perintah Yesus ini, karena hanya itulah batas kemampuan mereka dan hanya itulah yang ditetapkan bagi mereka. Berdosakah para murid karena tidak mampu menyelesaikan seluruhnya perintah Yesus ini? Tidak, Yesus sama sekali tidak mengatakan mereka akan berdosa jika tidak menjalankannya atau jika hanya menjalankan sebagian. Yesus punya cara lain dari para murid ini untuk memberitakan Injil-Nya, yaitu diturunkan dari para murid ke murid dan dari catatan-catatan yang saat ini kta sebut dengan Alkitab. Tidak menjalankan seluruh perintah Tuhan, tidaklah berarti dosa, karena para murid tetap melakukannya untuk kemuliaan Tuhan, dan Tuhan punya cara lain untuk memberitakan Injilnya hingga sampai ke seluruh dunia.


Sumber gambar : http://www.colindye.com
Tentang Dosa


Dosa, apakah itu dosa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dosa adalah perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama. Definisi ini mirip dengan yang di catat dalam 1 Yohanes 3:4-8.


Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggar hukum Allah. Dan kamu tahu bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. Karena itu setiap orang yang berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi, setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.
Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barang siapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar, barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. (1 Yohanes 3:4-8)


Dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Tuhan. Ketika Yesus, yang kita percaya sebagai Tuhan, memberikan perintah seperti pada peristiwa-peristiwa di dalam Alkitab di atas, setiap orang yang tidak menjalankannya dan yang melakukannya hanya sebagian, apakah orang tersebut melanggar hukum Tuhan? Kita mengenal hukum Tuhan yang disebut dengan hukum Taurat, dan kita juga tahu bahwa Yesus mengajarkan tentang hukum Kasih.


10 orang sakit kusta memohon kepada Yesus agar disembuhkan. Yesus memerintahkan untuk menghadap ke para imam dan mereka melaksanakannya. Karena di tengah perjalanan mereka semua sembuh, ada seorang yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur kepada Tuhan dihadapan-Nya. Orang ini pantas disebut tidak menjalankan perintah Yesus. Mengapa Yesus tidak menyebutnya berdosa, tapi justru mengagumi iman orang tersebut dan mempertanyakan yang lainnya. Salahkah Yesus memberi penilaian? Yesus sama sekali tidak salah memberikan penilaian. Ia mengagumi iman yang satu orang ini dan mempertanyakan iman ke 9 orang lainnya. Kesembuhan yang terjadi adalah tetap karena kehendak-Nya dan bukan karena iman, sedangkan dosa tidak dilakukan oleh ke sepuluh orang tersebut, karena mereka memang tidak melanggar hukum Tuhan.


Bagaimana dengan peristiwa seorang yang sakit kusta dan langsung disembuhkan oleh Yesus, tapi kemudian Yesus MELARANGNYA menceritakan kepada siapapun dan hanya menyuruh menghadap ke imam dan mempersembahkan korban. Yang terjadi adalah orang yang sudah disembuhkan tersebut justru malah menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada banyak orang, sehingga akhirnya Yesus harus menyingkir ke tempat sepi. Mengapa Yesus tidak menyebutnya berdosa karena melakukan apa yang dilarang oleh-Nya? Itu karena orang tersebut tidak melanggar hukum Tuhan.


Bagaimana dengan Amanat Agung Yesus kepada 11 murid sebelum kenaikannya? Perintah-Nya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia, hanya dapat dijalankan sedikit sekali oleh ke 11 murid tersebut. Apakah ini berarti perintah Yesus hanya dijalankan sebagian dan murid-murid tersebut berdosa? Mengapa Yesus tidak menyebutkan 11 murid-Nya berdosa karena hanya menjalankan sebagian perintah-Nya? Itu karena ke 11 murid tidak melanggar hukum Tuhan.


Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barang siapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar, barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. (1 Yohanes 3:7-8)


Pada 1 Yoh 3:7 ini, Alkitab mencatat “Barang siapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar. Kutipan tentang peristiwa kesembuhan dan amanat memberitakan injil diatas, meskipun perintah Yesus hanya dijalankan sebagian dan bertentangan dengan perintah-Nya, tidak ada satupun yang disebut berdosa. Itu karena memang mereka semua masih melakukan perbuatan yang BENAR, dan selama seseorang berbuat kebenaran, maka mereka akan dibenarkan oleh Yesus.


Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut. (1 Yohanes 5:17)


Adakah kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang pada kisah-kisah di atas? Tentu saja kita bisa menjawabnya tidak ada. Itu sebabnya karena mereka semua tidak melakukan kejahatan, maka mereka tidak melakukan dosa.


Satu ayat lagi saya berikan :


Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. (Yakobus 4:17)


Berbuat baikkah orang-orang dalam peristiwa-peristiwa di atas? Mereka semua berbuat baik dengan membagikan berita Injil dan berita sukacita kesembuhan. Itu sebabnya meskipun Yesus pada akhirnya harus tersingkir ke tempat sepi dan Injil tidak diberitakan sampai seluruh bumi oleh 11 murid, Yesus tidak menyebut mereka berdosa.


Tidak menjalankan perintah Tuhan belum tentu menyebabkan dosa, tetapi tetap harus di ingat, sepanjang apa yang dilakukannya untuk memuliakan Tuhan, dalam kebenaran, bukan kejahatan dan tetap melakukan perbuatan yang baik, maka Tuhan tetap akan menghargainya. Jika anda tidak melakukan perintah Tuhan untuk tujuan sengaja menentang-Nya dan bertujuan jahat, maka itulah yang akan mengakibatkan dosa. Jadi bukan masalah menjalankan perintah Tuhan atau tidak, tapi masalahnya ada pada respon kita terhadap perintah Tuhan. Jika kita merespon dengan benar bagi kemuliaan-Nya, maka Tuhan akan menghargainya.


Surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika mengatakan “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. (1 Tesalonika 5:21).” Tuhan mau kita menguji segala sesuatu dan memegang yang baik. Memegang yang baik berarti kita melakukan yang baik, dan jika kita melakukan yang baik, sangat mungkin kita melakukan yang benar, dan jika kita melakukan yang benar, sangat mungkin kita memuliakan Tuhan. Jadi lakukanlah segala sesuatu bagi kemuliaan Tuhan, maka Tuhan tidak akan marah padamu apalagi menjadikan dirimu berdosa.

Comments

Unknown said…
SURGA ANGAN-ANGAN KOSONG KRISTEN. OMONG KOSONG KRISTEN BILANG TIDAK MENGAPA MENINGGALKAN PERINTAH TUHAN YG PENTING INI YG PENTING IRU..HALAHHH, DASAR KRISTEN PEMALAS, MALAS SUJUD DENGAN CARA YG BENAR KEPADA TUHAN YG MAHA BENAR (BILANG GAK PERLU SUJUD/PUASA DLL KRN DOSANYA DUDAH DITEBUS CMA KARENA PEMALAS, CARI PEMBENARAN), MALAS PUASA, MALAS KHITAN, MALAS BANGUN PAGI, IBADAHNYA SEKALI SEMINGGU ITUPUN MILIH2 WAKTU (SIANG/SORE) KARENA MALAS BANGUN PKL 5 PAGI. YG KYK GTU SUDAH NGANGGAP YG PALING BERBAKTI, CARI ENAK SAJA DLM BERIBADAH MENURUT NAPSUMU. IBADAH YG BENAR YAITU DG SUJUD DG JIWA RAGA/KEPALA DAN PADA WAKTU2 YG DITENTUKAN TUHAN MAHA BENAR LANTAS DIGANTI NYANYI-NYANYI (KOOR) SEMINGGU SEKALI DIANGGAP SUDAH MENYEMBAH TUHAN. DASAR KRISTEN PEMALAS SUJUD, CARI IBADAH YG ENAK-ENAK AJA NYANYI-NARI KYK DI DISKOTIK SDH CUKUP. BAIT2 LAGUNYA PUN BEBAS BLAS..BLASS.. ENTAH KARANGAN SIAPA, YG PASTI BUKAN KARANGAN TUHAN YG MAHA BENAR KARENA TUHAN YG MAHA BENAR PASTI GAK PAKE NGARANG2 LAGU. SUJUD DENGAN TUNTUNAN DAN WAKTU YG DITENTUKAN BABLAS-BLASS.. DITINGGALKAN KRISTEN DG BERJUTA BAHKAN TRILIYUNAN DALIH N ALASAN PEMBENARAN. DASAR PEMALAS BERIBADAH, CARI WAKTU DAN CARA IBADAH YG ENAK-ENAK KARANGAN PENDETANYA. BUKTINYA: CARA IBADAHNYA KRISTEN SATU SAMA LAINNYA DG SEKTE2 YG ADA SUNGGUH JAUUH.. SEKALI BERBEDA BAIK SARA APALAGI SUBSTANSINYA. TP SEMUA CARA IBADAHNYA DARI SEKTE APA PUN JELAS TERANG SEMUA SESAT NGAWUR HASIL KARANGAN NAPSU PRIBADI, BUKAN DARI TUNTUNAN TUHAN YG BENAR. MANA ADA TUHAN NGAJARIN NYEMBAH PAKE ALAT DG NYANYI2 SEKALIPUN ISINYA PUJIAN, APLGI PAKAI ALAT2 MISIK ORGEN, GITAR, PIANO SEXOPHONE, DRUM DLL. SUNGGUH NGARANG NGAWUR HABIS CARA IBADAH KRISTEN SE DUNIA.